27
NOV
2018

Kunjungan Ustadz Ali Hasan Bawazier ke PIAT 2

Alhamdulillah hamdan katsiran thayyiban mubarakan fih kamaa yuhibbu Rabbuna wa yardha, asyhadu alla ilaha illallah wahdahu laa syarika lah, wa asy-hadu anna Muhammadan ‘abduhu wa rasuluh. Allahumma shalli ‘ala Nabiyyina Muhammad, wa ‘ala alihi wa shahbihi wa sallam.

Ahad, 25 November 2018, Pesantren Islam Al-Irsyad Tengaran 2 (PIAT 2) Majalengka mendapatkan kunjungan kehormatan dari ustadz Ali Hasan Bawazier, seorang da’i sekaligus kristolog Pembina Mualaf Center Indonesia. Bertempat di Masjid As-Salam PIAT 2, beliau hafizhahullahu ta’ala menyampaikan tausiyah dihadapan para Santri dan Civitas PIAT 2 yang hadir.

Dalam tausiyahnya, beliau berbagi pengalaman dalam mendakwahkan Islam kepada non Muslim di seluruh penjuru nusantara. Selain itu, beliau juga memberikan nasehat dan motivasi kepada para Santri dalam menuntut ilmu.

Pertama, beliau menyampaikan bahwa menyekolahkan anak di Pesantren merupakan bukti keseriusan dan semangat orang tua untuk menjadikan anaknya manusia terbaik. Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Barangsiapa yang Allah kehendaki baginya kebaikan maka Dia akan memahamkan baginya agama” (Muttafaqun Alaihi).

Kedua, beliau menekankan tentang betapa beruntungnya thalibul ‘ilmi di masa sekarang. Ilmu agama sudah terfokus di pesantren dan mudah didapatkan. Dahulu para ulama salaf harus bersusah payah untuk mendapatkan faedah ilmu. Ibnul Jauzi mengatakan: “Imam Ahmad bin Hambal harus mengelilingi dunia sebanyak 2 kali hingga ia bisa menulis kitab Al Musnad.”

Ketiga, beliau mengatakan bahwa salah satu kunci sukses dalam menuntut ilmu adalah memiliki sikap sabar. Imam Syafi’i mengatakan: “barangsiapa belum merasakan pahitnya belajar walau sebentar, Ia akan merasakan hinanya kebodohan sepanjang hidupnya. Dan barangsiapa ketinggalan belajar di masa mudanya, maka bertakbirlah untuknya empat kali karena kematiannya. Demi Allah, hakekat seorang pemuda adalah dengan ilmu dan takwa.”

Tidak ada ulama yang bersantai-santai dalam menuntut ilmu. Imam Bukhari pernah bangun dari tidurnya di suatu malam dan menyalakan lampu, kemudian mencatat ilmu yang terlintas di benaknya, lalu ia mematikan lampu kembali. Kemudian, ia bangun lagi dan melakukan hal yang sama. Demikian, sampai hal itu terjadi kurang lebih dua puluh kali. Syaikh Al-Albani pernah menaiki tangga di suatu perpustakaan untuk mengambil sebuah kitab, dan beliau tetap berdiri di atas tangga sambil membaca kitab tersebut selama lebih dari 6 jam.

Demikianlah beberapa faedah yang bisa kita ambil dari tausiyah beliau. Semoga apa yang beliau sampaikan dapat menambah semangat para Santri dalam menuntut ilmu. Kepada para Orang Tua, semoga dapat terus mendukung dan mendoakan kelancaran anak-anaknya dalam menjalani proses menuntut ilmu. Aamiin.DSCF7141 IMG_20181125_103204 IMG20181125105547

Leave a Reply

*

captcha *