02
OCT
2018

Kunjungan Ustadz Salim al-Muhdor, Lc. M.A. ke PIAT 2

IMG_5278 IMG_5281

Alhamdulillah hamdan katsiran thayyiban mubarakan fih kamaa yuhibbu Rabbuna wa yardha, wa asyhadu alla ilaha illallah wahdahu laa syarika lah wa asy-hadu anna Muhammadan ‘abduhu wa rasuluh. Allahumma shalli ‘ala Nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shahbihi wa sallam.

Ahad, 30 September 2018, Pesantren Islam Al-Irsyad Tengaran 2 (PIAT 2) Majalengka mendapatkan kunjungan kehormatan dari ustadz Salim al-Muhdor, Lc., M.A.. Bertempat di Masjid As-Salam PIAT 2, beliau hafizhahullahu ta’ala yang merupakan lulusan Universitas Islam Madinah, menyampaikan tausiyah dihadapan para santri, orang tua santri dan civitas PIAT 2 yang hadir. Berikut kami sajikan rangkuman tausiyah beliau:

1. Menjadi seorang penuntut ilmu (thalibul ‘ilmi) merupakan anugerah dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Karena seorang thalibul ‘ilmi merupakan calon penerus risalah Nabi shalallahu ‘alaihi wassalam. Thalibul ‘ilmi akan menjadi pengemban dakwah, yang akan menyampaikan apa-apa yang juga disampaikan oleh para salafush sholih. Para penuntut ilmu merupakan generasi yang paling mulia dan istimewa yang ada saat ini.

2. Menjalani masa belajar tentunya tidaklah mudah, pasti penuh dengan tantangan dan rintangan. Dalam satu syair arab dikatakan “mereka yang mengerti dan memahami tentang nilai (keutamaan) ilmu, pasti akan memperjuangkan sekuat tenaga (untuk mendapatkannya). Sehingga walau beratpun, karena dengan semangat yang tinggi untuk mendapatkan al-muna (kebahagiaan/keberhasilan), dengan bermodalkan kesabaran semuanya akan bisa tercapai.

3. Setelah keikhlasan, Kesabaran adalah modal utama dalam menuntut ilmu.

4. Ikhlas bagaikan kendaraan, yang insya Allah akan mengantarkan/memudahkan sampai kepada tujuan, yaitu mardhotillahi azza wa jalla (keridhoan Allah Azza wa Jalla).

5. Setelah keikhlasan dan kesabaran, yang harus dimiliki oleh para penuntut ilmu adalah sikap ihtiram (menghormati) kepada setiap guru yang mana kita mengambil ilmu darinya. Satu ungkapan berharga dari Ali bin Abi Thalib “aku adalah hambanya orang yang pernah mengajarkan kepadaku walaupun hanya satu huruf. Aku siap terhadap apapun yang akan dia lakukan padaku, kalau dia inginkan aku dijadikan budak aku siap, dimerdekakan pun aku siap.”

6. Penuntut ilmu juga harus senantiasa menjaga ketaatan kepada Allah Ta’ala. Menjauhkan diri dari segala bentuk maksiat yang dapat mendatangkan murka Allah, sekaligus menghalangi datangnya cahaya ilmu. Karena ilmu adalah cahaya dan tidak akan mendatangi mereka yang bermaksiat kepada Allah Ta’ala.

7. Berdoalah minta ilmu yang bermanfaat, antara lain dengan doa “Allahumma inni as-aluka ‘ilman naafi’a wa rizqan thoyyibaa wa ‘amalan mutaqabbalaa (Ya Allah, aku memohon pada-Mu ilmu yang bermanfaat, rizki yang baik dan amalan yang diterima)” [HR Ibnu Majah dan Ahmad].

8. Nabi mengawali hari dengan membaca doa tersebut, karena ilmu yang bermanfaat akan berdampak kepada rizki yang dicari dan didapat, sekaligus akan berdampak kepada amal yang dilakukannya, karena amal yang diterima adalah amal yang keluar dari ilmu. Sehingga ilmu menjadi kunci dan petunjuk kepada keselamatan dunia dan akhirat.

9. Hanya dua hal yang kita dianjurkan untuk selalu minta ditambah, yaitu ilmu dan iman.

10. Nabi menjanjikan surga bagi mereka yang berjalan mencari ilmu, sebagaimana sabda beliau “Man salaka thariqan yaltamisu fihi ‘ilman sahhalallahu lahu thariqan ilal jannah (Barangsiapa berjalan/keluar mencari ilmu, sesungguhnya Allah akan mempermudah baginya jalan menuju surga)” [HR Muslim].

11. Berbahagialah para orang tua yang sudah memasukan anaknya ke lembaga pendidikan ilmu syar’i, ini suatu keberuntungan yang luar biasa.

12. Jangan jadikan nilai pelajaran sebagai tolak ukur keberhasilan. Yang lebih dari itu adalah nilai-nilai kemandirian yang mereka dapatkan di pesantren. Di pesantren, mereka juga menjadi mengenal siapa itu sebenarnya orang tua, bagaimana kedudukannya dalam syariat, bagaimana cara memperlakukan dan mendoakan mereka. Berikutnya adalah mereka mendapatkan ilmu-ilmu syar’i yang bermanfaat bagi mereka dan tentu saja kedua orang tuanya. Dan yang paling bernilai adalah mereka dapat belajar dan menghapalkan Al-Qur’an. Karena setiap anak-anak yang menghapalkan Qur’an, mereka akan memberikan manfaat bagi orang tuanya, di akhirat mereka akan memasangkan mahkota di kepala orang tua mereka, sehingga para orang tua yang memakai mahkota tersebut akan memiliki kedudukan yang berbeda dibandingkan penduduk surga yang lainnya. Dan ini selayaknya menjadi cita-cita tertinggi setiap orang tua.

Semoga apa yang beliau sampaikan dapat menambah semangat para santri dalam menuntut ilmu, dan kepada para orang tua/wali santri, semoga dapat terus mendukung dan mendoakan kelancaran anak-anaknya dalam menjalani proses menuntut ilmu. Aamiin.

Leave a Reply

*

captcha *